Hidup Itu Akan Selalu Berwarna


01.58

Sudah hampir jam dua dini hari, tapi mataku belum ada mengantuk sedikitpun. Memang benar sih, kalau cahaya terang mengurangi zat sesuatu yang saya lupa namanya untuk berkembang dan membuat kita tidur. Begitu pula terang dari LED monitor, kenapa pada saat teknologi semakin maju tapi makin banyak orang yang insomnia, jawabannya mungkin karena mereka terlalu sering menatap hal-hal yang terang, ya seperti saya saat ini. Tapi, saya akan buat insomnia kali ini lebih bermanfaat dengan sedikit berbagi dengan kalian.


Waktu itu saya sedang membaca artikelnya dari blog Bang Alitt tentang Lakukan Hal-hal Kecil ini, Maka Kamu Akan Tetap Sejahtera di Tanggal Tua, dengan serius saya membaca artikelnya, cukup make a sense alias masuk akal tapi setelah scrolling terus ke bawah, saya akhirnya sadar sudah jatuh terperangkap dalam buaian sales MLM pada awal tahun kuliah, ternyata Bang Alitt lagi promosi Opera Mini. Yassalam~

Saya kemudian tertarik melihat berapa artikel yang sudah dia buat pada bulan Juni ini, ah ternyata baru tiga. Iya tiga, tapi dua dari tiga artikel itu berbobot semua. Sungguh berbeda jauh dengan isi blog saya yang cemen *ini kenapa jadi minder -.-

Owh iya, sebelum saya ceritakan artikel sebelumnya yaitu tentang kehilangan. Ada baiknya saya bahas dulu sebuah artikel yang membawa saya untuk kembali membaca blog-nya Bang Alitt.
Waktu itu kebetulan saya lagi kandas soal percintaan, kemudian utak-atik template blog agar lebih SEO katanya~ tapi entah bisa berhasil atau tidak, hahaha

Kemudian saya secara tidak sadar pindah melihat isi timeline twitter, entah siapa yang retweet dari salah satu akun yang saya follow, dia me-retweet sebuah kalimat yang mengacu ke artikel-nya Bang Aliit berjudul tentang pasangan. Sedikit tertarik, akhirnya saya baca, ternyata isinya percakapan dengan Bang Radit, wah ada hal yang menarik nih saya pikir. Hingga kemudian saya terdiam di salah satu paragraf yang isinya begini:
Terus Radit melanjutkan, "Hidup itu akan selalu berwarna. Akan ada banyak masalah yang bakal kita hadapi. Nah, nggak perlu kita tambah dengan pasangan yang sering ngajakin berantem. Cari pasangan yang kalem aja. Yang bisa menghormati apa yang kita suka. Pasangan yang punya level kecerdasan sama itu biasanya nggak selalu nyambung dan nyaman ngobrolnya, tapi malah akan sering berantem karena sama-sama ngerasa opininya benar." 

Gila! Jleb banget saya bacanya! Saya seperti masih harus banyak belajar tentang menjalin sebuah hubungan dengan perempuan, dan somehow saya seperti pernah mendengar paragraf tersebut diucapkan oleh sahabat saya yang saat ini sedang berbahagia dengan pacarnya. They're right! Mataku seperti terbuka. Semoga dengan ini aku bisa belajar kembali arti dari pembelajaran sebuah hubungan. Amien..

Nah, cukup untuk cinta dan nostalgianya. Ada hal yang lebih penting dan saya kembali mengutip paragraf yang Bang Alitt ketik. Saya saat ini memang sedikit mengalami apa yang Bang Alit pernah alami di blognya yang berjudul tentang kehilangan. Tidak saya persis, tapi inti dari ceritanya mirip. Saya kalau boleh diceritakan selalu berbuat baik dengan orang lain, bahkan begitu juga keluarga saya. Tapi entah mengapa beberapa orang bahkan yang terdekat seperti tetangga kami tidak bisa melihat kebaikan yang kami lakukan untuk orang lain.

Begitu pula dengan beberapa teman yang aku punya, aku kadang suka berfikir aneh, aku sudah baik dengan mereka tapi mereka tidak mengerti seperti apa aku ingin diperlakukan. Padahal aku sudah berbuat baik dengan kalian, aku minta dikasihani? Tidak, aku cukup minta dihargai. Kalau memang kalian belum sepenuhnya mengenalku, maka jangan seenanknya men-judge orang seperti apa.

Tetanggaku di rumah sana juga demikian, kalian tidak suka dengan kebaikan keluargaku memperhatikan anak autis? Ya bisa bilang baik-baik, ada caranya kan? Bersyukurlah keluargaku bukan keluarga dayak ber-tempramen yang bisa mencetuskan kerusuhan sampit part 2. Pemerintah disana pun seperti tidak ada bantuannya sama sekali dengan kerja kerasnya keluarga membangun sebuah yayasan untuk anak autis di kota ini, ya kota yang pernah jadi calon ibukota Indonesia. Rasanya ingin aku membawa keluargaku hidup tenang tanpa adanya masalah yang menghinggapi walaupun aku rasa itu tidak mungkin.

Akhirnya semua sedikit tercerahkan setelah aku membaca sepenggal paragraf dari artikel yang berjudul tentang kehilangan tadi:
Tapi aku coba renungin lagi secara lebih dalam, lalu aku dapet pencerahan. Aku anggap ini hanya semacam ujian dari Tuhan bagiku, untuk melihat apakah aku akan tetap jadi orang baik setelah selalu dikecewakan. Aku jadi mikir, aku ngerti rasanya dikecewakan, aku ngerti rasanya dicurangi. Aku nggak mau jadi sumber kekecewaan orang lain. Kalo faktanya aku selalu dipertemukan dengan orang-orang yang kurang baik, maka aku boleh menyimpulkan bahwa orang baik itu ternyata langka. Dan aku bangga bisa menjadi salah satu orang yang langka itu. Aku janji, aku nggak akan melakukan hal seperti mereka bila suatu saat aku menemukan barang orang lain atau menemui orang yang kesusahan. 

Well, thanks Bang, dua artikelmu sedikit membuka mata saya akan kerasnya kehidupan dan bagaimana menyikapinya, dan saya pun berjanji akan menjadi orang yang lebih baik ke depannya dengan pengalaman pahit yang saya sendiri rasakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih komentar, kritik maupun sarannya..

Komentarmu yang membuat blog ini tetap ada :)

Ingin script kodingmu terbaca di blog? Copy scriptmu DISINI

© Kucoba.com Webmaster Tools | Blogger Tool