Akibat Salah Adzan

Pada waktu itu aku sudah menginjak kelas 5 SD, aku ingat sekali pada hari sabtu siang ketika orang tuaku belum bisa pulang karena kebiasan rapat weekend di sebuah sekolah pendidikan luar biasa di kota Palangkaraya, aku merasa sangat kesepian dan mengantuk sekali di rumah menunggu mereka. Kebetulan adikku yang baru masuk kelas 1 di salah satu madrasah ibtidayah negeri juga ikut ke sekolah PLB tadi, sehingga aku benar-benar sendiri menjaga rumah. 

Aku merupakan anak yang rajin ke masjid, disamping aku ikut taman pengajian alqur'an, aku juga sangat suka bermain dan sholat berjamah ke masjid yang berada dekat rumah. Aku pun menunggu waktu dzuhur sampai hampir tertidur. Karena takut tertidur lagi, aku pun bergegas menuju masjid tercinta. Dalam perjalanan aku kebingungan, kok belum ada yang adzan ya? Padahal hari itu sudah sangat terik, aku kemudian sedikit berlari menuju masjid dengan niat mengumandangkan adzan.

Sesampainya di masjid aku melepas sandalku di luar batas suci. Aku melihat ke dalam, kok sepi? Aku pikir mungkin orang dewasanya sedang ada kesibukan, sehingga belum ada yang adzan. Aku tekan tombol untuk menghidupkan mikropon, bersiap adzan, dan berkumandanglah adzan dzuhur. Belum sempat habis tiba-tiba ada yang menekan kembali tombol untuk mematikan mikropon. Terkaget, kemudian aku di bawa ke belakang namun masih berada di dalam lingkungan masjid. Aku dimarahi dan dibodoh-bodohi oleh salah satu orang tua yang datang, kemudian tak lama aku pun diejek oleh anak-anak yang datang menyaksikan temannya yang salah waktu adzan. 

Ya, aku salah waktu adzan. Setelah aku perhatikan sehabis menangis tersedu-sedu, ternyata aku adzan dzuhur pada jam 10.30 WIB, terlalu cepat sejam. Aku malu luar biasa tapi juga kesal. Kenapa pula aku harus dimarahi? Akhirnya aku pun pulang dan menjadi malas untuk pergi ke masjid. Bahkan aku memutuskan untuk tidak mengikuti TPA di masjid itu lagi, biarlah aku berhenti mengaji, daripada menghadapi ejekan teman-teman pengajianku kala itu.

Sepulangnya ke rumah orang tuaku belum juga datang, aku masih menunggu mereka dengan keadaan yang sangat kesal dan menangis. Setelah pukul 13.00 WIB barulah mereka datang, Ayah dan Ibuku. Mereka bertanya kenapa aku di kamar sudah mau tidur, padahal biasanya di masjid aku sudah melakukan adzan dzuhur hingga ikut sholat berjamaah. Aku kemudian bercerita kepada mereka dan menyampaikan keputusanku untuk berhenti mengaji di TPA masjid itu. Ekspresi mereka tidak terlalu aku lihat setelah aku memberikan keputusan itu, yang pasti aku ingin segera tidur dan melupakan kejadian mengesalkan hari itu. 

Ada sebuah kisah yang mirip dengan kejadian yang menimpa diriku:

MUADZIN GILA...!!!

Suasana sebuah kampung tiba-tiba heboh, karena pd saat jam 22.00 terdengar adzan berkumandang dari sebuah mushalla setempat melalui pengeras suara yang memecah keheningan malam.

Warga berbondong-bondong mendatangi mushalla itu meski mereka sudah tahu siapa yang melakukannya...

Mbah Sadi, suaranya sudah dikenal dikampung itu, umurnya sudah mencapai kepala tujuh.

Warga dipenuhi pertanyaan, mengapa Mbah Sadi adzan pada jam sepuluh malam..??

Ketika warga sampai di pintu mushalla, Mbah Sadi baru selesai adzan dan mematikan sound system. 

“Mbah tahu gak, jam berapa sekarang..??” kata Pak RT.

“Adzan apa jam segini, Mbah..??” “Jangan-jangan Mbah sudah ikut aliran sesat,” sambar Roso dengan nada prihatin.

Sekarang banyak betul aliran macam-macam. “Ah, dasar Mbah Sadi sudah gila. “Kalau nggak gila, mana mungkin adzan jam segini..??”

“Kalian ini......,” jawab Mbah Sadi tenang. “Tadi, waktu saya adzan Isya, tidak seorang pun yang datang ke musholla. Sekarang saya adzan jam 10 malam, kalian malah berbondong-bondong kemushalla.

Satu kampung lagi...!!!
Kalo gitu... SIAPA YANG GILA....???”

Wargapun pulang satu persatu tanpa protes lagi. Termasuk Pak RT yang kemudian menjauh perlahan-lahan, tak berani melihat wajah Mbah Sadi.


Mawas diri...dipanggil dan diingatkan yg baik-baik kadang kita tidak mau mendengarkan. Tetapi begitu ada kesempatan mem-bodoh-bodoh-kan dan memarahi orang, kita menyempatkan diri..

Intropeksi diri sendiri , sebelum menilai orang lain. 

Jadi, apa kamu pernah salah waktu ketika jadi muadzin? Ayo bagi pengalamanmu di kolom komentar.. 

6 komentar:

  1. Ada 4 blignya, bingung tadi Mau mampir kemana, akhirnya ke yg paling update.

    Kalau Sekarang masih suka azan? Hebat dong sejak kecil udah antusias sama adzan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trimakasih sudah mampir mas Sabda Awal..
      Blog pribadi saya cuma satu ini, sisanya project percobaan, haha.
      Kalau sekarang...sudah jarang datang ke masjid sebelum adzan mas, datang kalau sudah adzan saja, itupun kalau kepengen jamaah, saya sudah banyak berubah ternyata.
      Sejak kecil antusias suka adzan ya karena hidupnya di masjid terus semenjak ikut TPA, dan mungkin karena suara saya (merasa) bagus :D

      Hapus
  2. Balasan
    1. Ya emang tidak pernah kalau cewek mah Amalia -.-

      Hapus
  3. Wkwk,sejak kapan kk manggil amalia? 😮

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sejak negara api menyerang, iya deh Amel, haha..

      Hapus

Terimakasih komentar, kritik maupun sarannya..

Komentarmu yang membuat blog ini tetap ada :)

Ingin script kodingmu terbaca di blog? Copy scriptmu DISINI

© Kucoba.com Webmaster Tools | Blogger Tool