Show Your Respect

Aku punya kenalan, cewek, cantik (yaiyalah cewek cantik, masa cewe ganteng?) dan terpelajar, namanya Wati (bukan nama sebenarnya). Wati punya kelemahan dalam hal bersosial. Dulu (entah kalau sekarang masih ya), aku juga masuk dalam kategori anti-sosial. Hobiku adalah mendekam di kamar. Tidur di kamar, makan di kamar, mandi di kamar, boker di kamar. Padahal kost-kost-anku kamar mandinya di luar.

Alasanku waktu itu sih cuma satu: Aku menjadi anti-sosial untuk mereka yang baru saja mengenalku. Jadi bagaimana kalau mereka sudah mengenalku lama? Mereka pasti akan berubah pikiran dan akan menjulukiku si cerewet. Ya, aku cerewet terhadap sahabat-sahabatku.


Ada sebuah peristiwa yang membuatku berpikir untuk bisa lebih menghargai orang yang sudah berbuat sesuatu terhadapmu. Pada saat itu aku terbangun di siang hari, ya karena pekerjaan seorang programmer gadungan  itu dari malam sampai pagi, alhasil aku terbangun pada jam 11 siang. Aku dikagetkan dengan pesan masuk yang begitu banyaknya dari teman-temanku. Mereka berkata bahwa Wati sedang berulang tahun dan aku ditodong pertanyaan mau berbuat apa untuknya. Kenapa aku yang dituduh? Aku belom apa-apain Wati, Pak?! Kenapa jadi harus aku yang berbuat sesuatu di hari spesialnya Wati?

---

Yak, mari kita buka sejarahnya dulu. Jadi pada awalnya, aku memang sengaja dikenalkan oleh teman-temanku Wati yang ingin mencari pacar. Teman-temanku sih bilangnya begitu. Alhasil, aku pun menghargai usaha teman-temanku itu. Aku coba cari comfort zone-nya dengan gadis itu, mencoba mengaktifkan mode cowok humoris-ku yang sempat hilang karena keseringan patah hati, coba ajak bicara berbagai macam hal, ngejekin mas-mas pembawa es teh dengan bilangin dia mirip tukul, bahkan aku mencoba gentleman dihadapannya dengan mentraktir sebagai tanda awal perkenalan kami. Akhirnya....aku sukses menarik perhatiannya.

Ketika sampai di kost, aku mendapatkan pesan yang isinya kontak LINE si Wati. Mulailah kami ber-chatting ria sampai larut malam. Aku baru sadar, ternyata dia lebih aktif dan luwes ngobrolnya ketika chatting. Setelah bertanya kepada temanku yang lebih awal mengenalnya, terungkaplah sudah. Ternyata di dunia nyata, gadis ini orangnya memang pemalu.
---

Kembali ke masalah ulang tahun. Aku kemudian didatangi oleh teman-temanku. Lebih tepatnya ditodong sih dengan pertanyaan kamu mau berbuat apa? Aku pun tidak bisa menjawab. Kemudian aku menjelaskan kepada mereka kalau aku dan Wati masih dalam tahap yang biasa-biasa saja. Dekatpun tidak, jadi kenapa harus memberikan surprise yang berlebihan? Salah satu temanku memberikan usulan kalau aku mending kasih kue saja trus lilin dan sedikit balon. Beres. Kenapa beres? Karena teman-temanku ternyata mau patungan belinya. Jadi indomie goreng menepi dulu sebelum awalnya sempat menghadangku untuk pergi menikmati hari. Tanpa pikir panjang, kami bergegas menuju hypermarket untuk membeli perlengkapan surprise tersebut. 

Rencananya, aku mewakili teman-temanku ini akan memberikan surprise kepada Wati di lapangan badminton pada pukul 14.00, sedangkan waktu itu aku berangkat membeli kue 'surprise'-nya sekitar jam 13.00. Gak kebayang sih keburu atau enggak. Apalagi ketika kami bersiap berangkat, rintik hujan mulai menyerang. Tak apalah hujan-hujanan sebentar, yang penting niatnya kan untuk membahagiakan orang lain.
Akhirnya kami aku sampai juga di dalam lapangan badminton. Aku harus sampai duluan ke lapangan badminton karena semua peralatan dari kue sampai lilin, aku yang bawa. Bersyukur waktu itu keadaannya masih sepi. Sehingga ketika kami memberikan surprise, Wati tidak akan tahu sama sekali.
Watipun datang, tanpa basa basi, dinyalakanlah lilin di atas kue yang sudah aku siapkan. Sambil bernyanyi Happy Birthday to You Wati tersenyum senang. Sepertinya surprise yang tidak seperti surprise ini berhasil. Sesi foto-foto bergulir, jepret sana jepret sini. Semoga apa yang kamu impikan bisa segera terwujud ya, Ti. Doaku dalam hati dan masalah pun dimulai dari sini.
Sepanjang waktu kami bermain badminton sampai kami akhirnya makan bareng, Wati seperti tidak ada mengucapkan kata terimakasih sedikitpun, terutama padaku. Bahkan sekedar ngajak ngobrol saja tidak. Bukannya aku orang yang gila terimakasih, tapi seenggaknya dia menunjukkan gestur yang menunjukkan rasa terimakasihnya, khususnya kepada aku yang sudah mau direpotkan oleh dia. 
Akhirnya aku sadar, empatiku tidak menghasilkan apa-apa. Malah dia lebih senang tidak menghargaiku daripada sekedar menengok melihatku dan menatap mataku. Aku sepertinya bukan orang yang bisa membuatnya bangga.

Buat kamu para gadis di luar sana. Banggalah dengan orang yang memberikan sinyal ingin lebih dekat denganmu. Minimal hargailah mereka. Tidak sedikit dari para lelaki yang rela berkorban waktu dan tenaga hanya karena ingin membuat kalian para gadis ini bahagia. Ya, banggakan dan hargailah..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih komentar, kritik maupun sarannya..

Komentarmu yang membuat blog ini tetap ada :)

Ingin script kodingmu terbaca di blog? Copy scriptmu DISINI

© Kucoba.com Webmaster Tools | Blogger Tool