Pages

Jenuh Dengan Kuliah ?

Hari ini aku terbangun di pagi buta, kemudian tahajud, curhat kepada yang Maha Kuasa. Berbagai macam masalah aku curhatkan, salah satunya tentang kuliahku yang tak kelar-kelar. Dilema memang menjadi mahasiswa akhir. Padahal dari awal ekpetasi tentang kuliah tentu tidak akan serumit ini. Mari kita flashback.

Pada tahun 2010, ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di Kota Pelajar, Yogyakarta. Aku bersama seorang temanku berharap sukses di kota ini dan bisa pulang ke daerah asal membawa banyak bekal untuk merubahnya. Ternyata, jalan kami berdua sendiri pun berbeda. Ketika temanku sedang berjuang untuk magister-nya. Aku masih berkutat dengan Kerja Praktek di kampusku.

Kenapa begitu susahnya untuk menyelesaikan? Padahal kan sudah diajari dosen. Yap anda betul sekali. Kami memang diajari dosen, tapi itu hanya teorinya, untuk lebih prakteknya yang kompleks, kami terbatas di 14 pertemuan saja, selebihnya ya belajar sendiri, ikut study club yang belum tentu juga diminati oleh tiap mahasiswa. Alhasil, banyak yang belum lulus terkendala TA ataupun lulus tetapi malah memalukan kampusnya karena tidak bisa berbuat banyak. 

Ketahuilah kisanak, ekpetasi masyarakat terhadap lulusan IT itu begitu tinggi, kau dianggap bisa segalanya. Apalagi didukung dalam cerita tiap film barat kalau lulusan IT itu bisa apa saja. Selesai lah sudah urusan. Kau kurang menguasai? Ya sudah, bakal terdepak. Makanya tiap perusahaan melabelkan untuk lowongan IT itu minimal pengalaman kerja 3-5 tahun. Bagaimana untuk yang lulusnya saja ketika sudah 8 tahun di kampus? Nanti terkendala umur lagi. Ah, ribet sekali dunia kerja. Akhirnya banyak lulusan IT yang berpindah haluan seperti menjadi Editor Penerbit (@benzbara) atau pun yang menggeluti dunia usaha.

Jenuh, sebuah akta yang mewakili rasaku saat ini ketika sudah pasti menjabat sebagai mahasiswa tingkat akhir yang belum lulus. Mungkin juga dirasakan oleh teman-teman mahasiswa akhir yang lain. Yang entah kenapa ijazah serasa cuma buat pajangan belaka, toh nanti perusahaan tetap perlu skill kita, bahkan untuk ukuran perusahaan asing pun dirasa ijazah tidak terlalu diperlukan, cukup anda pintar meyakinkan pihak perusahaan ketika wawancara, dan selesai. Anda bekerja besok harinya dengan gaji yang sudah dibicarakan.

Entahlah, apa aku bisa bertahan dan masih bisa berjuang dengan motivasi dari keluarga dan teman yang selalu berdatangan. Cuma ya tetap saja, harus aku sendiri yang memulai perjuangan ini~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih komentar, kritik maupun sarannya..

Komentarmu yang membuat blog ini tetap ada :)

Ingin script kodingmu terbaca di blog? Copy scriptmu DISINI

© Kucoba.com Webmaster Tools | Blogger Tool